TUGAS –KELOMPOK :
Oleh :
I MADE KUSUMA
DANAYASA(16)
KOMANG OKKY BRAWIDA
DEWANTARA(22)
GEDE YOGA SUCIPTA(21)
I GD TINTON KRISNA
PRAWIRA(13)
I Gusti ayu wahyu
pratami(05)
X TKJ 1
Merupakan jenjang yang kedua yaitu kehidupan pada waktu membina rumah tangga ( dari mulai kawin ). Kata grahasta berasal dari dua kata. Grha artinya rumah, stha artinya berdiri. Jadi grahasta artinya berdiri membentuk rumah tangga. Dalam berumah tangga ini harus mampu seiring dan sejalan untuk membina hubungan atas darar saling cinta mencintai dan ketulusan.
syarat-syarat perkawinan adalah
- sehat jarmani dan rohani
- hidup sudah mapan
- saling cinta mencintai
- mendapat persetujuan dari kedua pihak baik keluarga dan orang tua.
Sejak itu jenjang kehidupan baru masuk ke dalam anggota keluarga / anggota masyarakat. Menurut kitab Nitisastra. Masa grahasta yaitu 20 tahun.
adapun tujuan grahasta adalah :
- melanjutkan keturunan
- membina rumah tangga ( saling tolong menolong, sifat remaja dihilangkan, jangan bertengkar apalagi di depan anak-anak karena akan mempengaruhi perkembangan psikologis anak )
- melaksanakan panca yadnya ( sebagai seorang hindu )
|
Grahasta
|
|
Grhastha
adalah masa berumah tangga, masa menikah dan mengembangkan keturunan. Dalam
menempuh ashrama yang kedua ini diupayakan terwujudnya rumah tangga/keluarga
yang bahagia. Kebahagiaan ditunjang oleh unsur-unsur material dan non
material. Unsur material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan
papan/perumahan, semuanya disebut artha. Unsur non material adalah rasa
kedekatan dengan Hyang Widhi yang disebut dharma, dan unsur non material
lainnya : pendidikan, sex, kasih sayang antara suami - istri - anak,
mempunyai keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga, dan
eksistensi sosial di masyarakat yang semuanya disebut kama. Berkeluarga
mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan manusia karena melalui
pernikahan lahirlah anak-anak yang disebut putra.
Kata
putra terdiri dari dua pokok kata yaitu "PUT" artinya neraka, dan
"RA" artinya menyelamatkan. Jadi putra adalah anak yang
menyelamatkan orang tuanya dari neraka.Disebut demikian karena anaklah yang
merawat orang tuanya ketika mereka secara phisik dan mental sudah tua dan
kurang mampu mengurus diri sendiri. Disamping itu sesuai dengan tradisi
beragama Hindu di Bali, anak mempunyai kewajiban melaksanakan upacara pitra
yadnya bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, dengan tujuan agar
roh/atma-nya terbebas dari ikatan Panca Mahabutha dan Panca Tanmatra.
Cinta
kasih dalam hubungan anak orang tua berlangsung timbal balik; sejak anak
masih dalam kandungan ibu sampai dewasa dan mandiri, orang tualah yang
berkewajiban mengurus dan setelah anak memasuki grhastha ashrama, anaklah
yang wajib mengurus orang tuanya. Hidup berkeluarga diawali dengan
"pawiwahan" maka oleh karena itu pawiwahan dalam Manawa
Dharmasastra disebut sebagai "Dharmasampati" artinya pelaksanaan
dharma. Kebalikannya dan yang tergolong adharma adalah perceraian.
Tokoh yang
melaksanakan Grehasta Asrama yaitu Dewa Siwa
Siwa adalah contoh ketenangan yang paling sempurna ! Menurut Purana, Siwa
mempunyai bermacam-macam anggota keluarga yang aneh. Walaupun begitu,
masing-masing demikian tenang tanpa pertentangan, sehingga keluarga ilahi itu
berada dalam keadaan damai dan rukun. Di lengan Siwa ada ular melilit,
demikian pula di leher, kepala dan pinggang-Nya! Salah seorang putra-Nya
Kumara mengendarai merak, yang menyerang ular. Yang lain mengendarai tikus
yang menjadi makanan ular! Seorang putra-Nya mempunyai kepala Gajah, yang
membangkitkan selera singa, yang menjadi kendaraan Durga, Pendamping Siwa,
yang sedemikian tidak terpisahkan sehingga ia adalah separuh tubuh Siwa
sendiri pada bagian sebelah kiri. Demikian pula berdasarkan sifatnya, Singa
tidak pula berteman dengan Sapi jantan, yang digunakan Siwa sendiri sebagai
kendaraan-Nya! Di titik pusat Dahi Siwa memancarlah api dan di kepala-Nya
memancar air (Sungai Gangga), keduanya saling bertentangan! Bayangkan betapa
unsur yang bermacam-macam itu saling bekerja sama dengan penuh kasih sayang
sehingga hidup di Kailas menjadi tenang dan bahagia.
Semua
ini tergantung pada perasaan dan disiplin pikiran yang selayaknya. Senjata
kasih sayang akan menghilangkan rasa permusuhan setiap lawan. Kasih sayang
menghasilkan Kasih sayang. Kasih sayang akan dipantulkan kembali dan hanya kasih
sayanglah yang diperoleh sebagai reaksinya. Serukanlah “Kasih Sayang”, maka
dari hati orang lain pun timbullah gema “Kasih Sayang”
Agar
terwujud keluarga yang bahagia, Manawa Dharmasastra Buku ke-3 (Tritiyo
dhyayah) mengatur sejak cara melaksanakan pawiwahan sampai cara membina
keluarga bahagia.
Beberapa
sloka yang penting antara lain :
21 :
Brahmo daivastathaivarsah, prayapatyastathasurah, gandharva raksasascaiva,
paisacasca astamo dharmah (delapan cara pawiwahan adalah : brahma, daiwa, rsi,
prajapati, asura, gandharwa, raksasa dan pisaca).
Dari
delapan cara pawiwahan itu ada tiga cara yang dewasa ini sudah tidak sesuai
karena melanggar hukum yaitu : asura, raksasa dan paisaca. Sedangkan diantara
lima cara sisanya, yang paling populer adalah prajapatya yaitu pawiwahan atas
dasar cinta sama cinta dan direstui kedua pihak orang tua. Selanjutnya cara
gandharva di Bali sering terjadi, dimana pawiwahan didasari oleh sama-sama
cinta tetapi tidak diketahui (mungkin tidak direstui) oleh salah satu pihak
orang tua. Cara yang lain misalnya brahma, daiva, dan rsi kini kurang populer
di masyarakat karena ada unsur campur tangan yang lebih kuat pada pihak orang
tua sehingga terkesan sebagai diarahkan atau dipaksaan. Beberapa sloka yang
perlu diketahui dalam melakukan hubungan sex antara suami - istri antara lain
:
45 : Rtu kalabhigamisyat, swadaraniratah sada, parwawarjam wrajeccainam, tad wrato rati kamyaya (hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan selalu merasa puas dengan istrinya seorang; ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan sex pada hari apa saja kecuali hari parwani = purnama/tilem).
48
: Yugmasu putra jayante, striyo yugmasu ratrisu, tasmadyugmasu putrarthi,
samvice dartave striyam (kalau menggauli istri
pada hari-hari yang genap maka anak laki-lakilah yang lahir, sedangkan pada
hari-hari yang ganjil anak perempuanlah yang lahir; karena suami yang
menginginkan anak laki-laki hendaknya menggauli istrinya hanya dimasa yang
baik pada hari-hari genap).
Yang
dimaksud hari-hari genap adalah bilangan genap pada panglong dan penanggal.
Panglong adalah hari-hari dari purnama ke tilem, sedangkan penanggal adalah
hari-hari dari tilem ke purnama. Sehari setelah purnama, disebut
"panglong ping pisan (1)" ini disebut hari ganjil sedangkan
besoknya "panglong ping kalih (2)" disebut hari genap demikian
seterusnya panglong ganjil dan genap silih berganti sampai panglong ping 14;
panglong ping 15 adalah tilem, disarankan tidak mengadakanhubungan sex.
Sehari setelah tilem (bulan gelap) disebut "penanggal ping pisan
(1)" sebagai hari ganjil dan keesokan harinya disebut "penanggal
ping kalih (2) sebagai hari genap, demikian seterusnya penanggal ganjil dan
genap silih berganti sampai penanggal ping 14. Penanggal ping 15 adalah
purnama, disarankan untuk tidak mengadakan hubungan sex. Dalam Kamasutra
dijelaskan lebih rinci tentang cara-cara mengadakan hubungan sex. Hal penting
yang dilarang adalah mengadakan hubungan sex dengan meniru cara-cara
binatang, dan hubungan sex disaat istri sedang menstruasi. Hubungan sex juga
dilarang disaat salah satu atau keduanya sedang mabuk, tidak sadarkan diri,
takut, sedih, dan marah.
Peranan
istri dalam keluarga sangat penting seperti yang dinyatakan dalam Manawa
Dharmasastra
III.56 : Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na pujyante, sarwastatraphalah kriyah (dimana wanita dihormati disanalah pada dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala). 57 : Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita, wardhate taddhi sarvada (dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur, tetapi dimana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia). 60 : Samtusto bharyaya bharta, bhartra tathaiva ca, yaminneva kule nityam, kalyanam tatra vai dhruvam (pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti akan kekal). Pelaksanaan dharma dalam hidup berkeluarga ditegaskan dalam MD.III. 63, 66, 75, 94, 106, 117 dan 118. Pada intinya mengatur agar suatu keluarga senantiasa melaksanakan pemujaan kepada Hyang Widhi, mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Weda, menghormati orang - orang suci, menghormati tamu yang datang kerumah, dan berdana punia. |
SEreemmm!!!
BalasHapus