Jumat, 28 Maret 2014



TUGAS –KELOMPOK :

Oleh :
I MADE KUSUMA DANAYASA(16)
KOMANG OKKY BRAWIDA DEWANTARA(22)
GEDE YOGA SUCIPTA(21)
I GD TINTON KRISNA PRAWIRA(13)
I Gusti ayu wahyu pratami(05)



X TKJ 1


TAHUN AJARAN 2013/2014



*      Grahasta asrama

Merupakan jenjang yang kedua yaitu kehidupan pada waktu membina rumah tangga ( dari mulai kawin ). Kata grahasta berasal dari dua kata. Grha artinya rumah, stha artinya berdiri. Jadi grahasta artinya berdiri membentuk rumah tangga. Dalam berumah tangga ini harus mampu seiring dan sejalan untuk membina hubungan atas darar saling cinta mencintai dan ketulusan.

syarat-syarat perkawinan adalah

- sehat jarmani dan rohani
- hidup sudah mapan
- saling cinta mencintai
- mendapat persetujuan dari kedua pihak baik keluarga dan orang tua.

Sejak itu jenjang kehidupan baru masuk ke dalam anggota keluarga / anggota masyarakat. Menurut kitab Nitisastra. Masa grahasta yaitu 20 tahun.

adapun tujuan grahasta adalah :

- melanjutkan keturunan
- membina rumah tangga ( saling tolong menolong, sifat remaja dihilangkan, jangan bertengkar apalagi di depan anak-anak karena akan mempengaruhi perkembangan psikologis anak )
- melaksanakan panca yadnya ( sebagai seorang hindu )




Grahasta



Grhastha adalah masa berumah tangga, masa menikah dan mengembangkan keturunan. Dalam menempuh ashrama yang kedua ini diupayakan terwujudnya rumah tangga/keluarga yang bahagia. Kebahagiaan ditunjang oleh unsur-unsur material dan non material. Unsur material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan/perumahan, semuanya disebut artha. Unsur non material adalah rasa kedekatan dengan Hyang Widhi yang disebut dharma, dan unsur non material lainnya : pendidikan, sex, kasih sayang antara suami - istri - anak, mempunyai keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga, dan eksistensi sosial di masyarakat yang semuanya disebut kama. Berkeluarga mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan manusia karena melalui pernikahan lahirlah anak-anak yang disebut putra.
 Kata putra terdiri dari dua pokok kata yaitu "PUT" artinya neraka, dan "RA" artinya menyelamatkan. Jadi putra adalah anak yang menyelamatkan orang tuanya dari neraka.Disebut demikian karena anaklah yang merawat orang tuanya ketika mereka secara phisik dan mental sudah tua dan kurang mampu mengurus diri sendiri. Disamping itu sesuai dengan tradisi beragama Hindu di Bali, anak mempunyai kewajiban melaksanakan upacara pitra yadnya bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, dengan tujuan agar roh/atma-nya terbebas dari ikatan Panca Mahabutha dan Panca Tanmatra. 
Cinta kasih dalam hubungan anak orang tua berlangsung timbal balik; sejak anak masih dalam kandungan ibu sampai dewasa dan mandiri, orang tualah yang berkewajiban mengurus dan setelah anak memasuki grhastha ashrama, anaklah yang wajib mengurus orang tuanya. Hidup berkeluarga diawali dengan "pawiwahan" maka oleh karena itu pawiwahan dalam Manawa Dharmasastra disebut sebagai "Dharmasampati" artinya pelaksanaan dharma. Kebalikannya dan yang tergolong adharma adalah perceraian.

Tokoh yang melaksanakan Grehasta Asrama yaitu Dewa Siwa
      Siwa adalah contoh ketenangan yang paling sempurna ! Menurut Purana, Siwa mempunyai bermacam-macam anggota keluarga yang aneh. Walaupun begitu, masing-masing demikian tenang tanpa pertentangan, sehingga keluarga ilahi itu berada dalam keadaan damai dan rukun. Di lengan Siwa ada ular melilit, demikian pula di leher, kepala dan pinggang-Nya! Salah seorang putra-Nya Kumara mengendarai merak, yang menyerang ular. Yang lain mengendarai tikus yang menjadi makanan ular! Seorang putra-Nya mempunyai kepala Gajah, yang membangkitkan selera singa, yang menjadi kendaraan Durga, Pendamping Siwa, yang sedemikian tidak terpisahkan sehingga ia adalah separuh tubuh Siwa sendiri pada bagian sebelah kiri. Demikian pula berdasarkan sifatnya, Singa tidak pula berteman dengan Sapi jantan, yang digunakan Siwa sendiri sebagai kendaraan-Nya! Di titik pusat Dahi Siwa memancarlah api dan di kepala-Nya memancar air (Sungai Gangga), keduanya saling bertentangan! Bayangkan betapa unsur yang bermacam-macam itu saling bekerja sama dengan penuh kasih sayang sehingga hidup di Kailas menjadi tenang dan bahagia.
     Semua ini tergantung pada perasaan dan disiplin pikiran yang selayaknya. Senjata kasih sayang akan menghilangkan rasa permusuhan setiap lawan. Kasih sayang menghasilkan Kasih sayang. Kasih sayang akan dipantulkan kembali dan hanya kasih sayanglah yang diperoleh sebagai reaksinya. Serukanlah “Kasih Sayang”, maka dari hati orang lain pun timbullah gema “Kasih Sayang”

 Agar terwujud keluarga yang bahagia, Manawa Dharmasastra Buku ke-3 (Tritiyo dhyayah) mengatur sejak cara melaksanakan pawiwahan sampai cara membina keluarga bahagia. 
Beberapa sloka yang penting antara lain :
21 : Brahmo daivastathaivarsah, prayapatyastathasurah, gandharva raksasascaiva, paisacasca astamo dharmah (delapan cara pawiwahan adalah : brahma, daiwa, rsi, prajapati, asura, gandharwa, raksasa dan pisaca).
Dari delapan cara pawiwahan itu ada tiga cara yang dewasa ini sudah tidak sesuai karena melanggar hukum yaitu : asura, raksasa dan paisaca. Sedangkan diantara lima cara sisanya, yang paling populer adalah prajapatya yaitu pawiwahan atas dasar cinta sama cinta dan direstui kedua pihak orang tua. Selanjutnya cara gandharva di Bali sering terjadi, dimana pawiwahan didasari oleh sama-sama cinta tetapi tidak diketahui (mungkin tidak direstui) oleh salah satu pihak orang tua. Cara yang lain misalnya brahma, daiva, dan rsi kini kurang populer di masyarakat karena ada unsur campur tangan yang lebih kuat pada pihak orang tua sehingga terkesan sebagai diarahkan atau dipaksaan. Beberapa sloka yang perlu diketahui dalam melakukan hubungan sex antara suami - istri antara lain :


45 : Rtu kalabhigamisyat, swadaraniratah sada, parwawarjam wrajeccainam, tad wrato rati kamyaya (hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan selalu merasa puas dengan istrinya seorang; ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan sex pada hari apa saja kecuali hari parwani = purnama/tilem).
 
 48 : Yugmasu putra jayante, striyo yugmasu ratrisu, tasmadyugmasu putrarthi, samvice dartave striyam (kalau menggauli istri pada hari-hari yang genap maka anak laki-lakilah yang lahir, sedangkan pada hari-hari yang ganjil anak perempuanlah yang lahir; karena suami yang menginginkan anak laki-laki hendaknya menggauli istrinya hanya dimasa yang baik pada hari-hari genap).
Yang dimaksud hari-hari genap adalah bilangan genap pada panglong dan penanggal. Panglong adalah hari-hari dari purnama ke tilem, sedangkan penanggal adalah hari-hari dari tilem ke purnama. Sehari setelah purnama, disebut "panglong ping pisan (1)" ini disebut hari ganjil sedangkan besoknya "panglong ping kalih (2)" disebut hari genap demikian seterusnya panglong ganjil dan genap silih berganti sampai panglong ping 14; panglong ping 15 adalah tilem, disarankan tidak mengadakanhubungan sex. Sehari setelah tilem (bulan gelap) disebut "penanggal ping pisan (1)" sebagai hari ganjil dan keesokan harinya disebut "penanggal ping kalih (2) sebagai hari genap, demikian seterusnya penanggal ganjil dan genap silih berganti sampai penanggal ping 14. Penanggal ping 15 adalah purnama, disarankan untuk tidak mengadakan hubungan sex. Dalam Kamasutra dijelaskan lebih rinci tentang cara-cara mengadakan hubungan sex. Hal penting yang dilarang adalah mengadakan hubungan sex dengan meniru cara-cara binatang, dan hubungan sex disaat istri sedang menstruasi. Hubungan sex juga dilarang disaat salah satu atau keduanya sedang mabuk, tidak sadarkan diri, takut, sedih, dan marah.
Peranan istri dalam keluarga sangat penting seperti yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra

III.56 : Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na pujyante, sarwastatraphalah kriyah (dimana wanita dihormati disanalah pada dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala).

57 : Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita, wardhate taddhi sarvada (dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur, tetapi dimana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia).

60 : Samtusto bharyaya bharta, bhartra tathaiva ca, yaminneva kule nityam, kalyanam tatra vai dhruvam (pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti akan kekal).

Pelaksanaan dharma dalam hidup berkeluarga ditegaskan dalam MD.III. 63, 66, 75, 94, 106, 117 dan 118. Pada intinya mengatur agar suatu keluarga senantiasa melaksanakan pemujaan kepada Hyang Widhi, mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Weda, menghormati orang - orang suci, menghormati tamu yang datang kerumah, dan berdana punia.

Selasa, 06 Agustus 2013

Kunci gitar Sisan Timpal

KUNCI GUITAR SISAN TIMPAL  


  C              Dm
Beli sing peduli diastun liu
                     F                                Am
Timpal beline teke nyelek-nyelekan adi
                  C                     Dm
Ngorang ipidan adi jlema nakal
                     F                          Am
Selegenti timpal beline ngaku makatang



                 C                   Dm
Diolas percaye kapining beli
                             F                            Am
To mekejang suba anggap beli angin berlalu
                  C                     Dm
Ne penting jani masa lalu adi
                              F
Ne suba liwat depang to angon pelajahang


Intro : Am C Dm F
Solo Melodi


(*)
Am                 C                         Dm
Beli sing kal nyesel ngelahang adi
                     F                              Am
Diastun mare bakat suba tusing perawan
               C                    Dm
Maklum irage mare ketemu
                     F                                     Am
Disubane benyah layu keincuk timpal


                   C                      Dm
Yen mula tresna sing dadi nuntut
                          F                               Am
Pasti rage siap nerima ape kekurangan ne
                   C                    Dm
Ne penting jani saling percaye
                            F                             Am
Bise ngajiang tresna ento, ane utama


Reff :
          C              Dm
Oh bulan, oh bintang
              F                         Am
Saksiang je tiang dini metembang
                      C                          Dm
Diastun tunang tiang suba sisan timpal
                         F                          Am
Tiang tulus nerima tetep satia tur sayang


Intro : C Dm F Am C Dm F Am C Dm F
Solo Melodi
Back to : (*)


            C                             Dm
ooO bajang-bajang jak mekejang
                        F                          Am
Mai mekumpul dini sareng ragan titiang
                       C                            Dm
Tusing perlu sebet atau buin maseselan
                     F